Gabuss hingga Pucakwangi Masuk Sorotan, DPRD Pati Minta Kebutuhan Air Dipetakan

oleh -38 Dilihat
oleh
banner 468x60

PATI, inaraa.id – Kekeringan di Pati tidak dirasakan dengan tingkat yang sama oleh seluruh wilayah. Ada kawasan yang masih memiliki sumber air, namun ada pula daerah yang ketika kemarau datang harus mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Anggota Komisi B DPRD Pati dari Fraksi Gerindra, Yeti Kristianti. Ia menyebut sejumlah wilayah perlu mendapat perhatian lebih karena kebutuhan air bersihnya cukup tinggi saat musim kemarau.

Empat kawasan yang menurutnya perlu menjadi perhatian antara lain Gabuss, Jaken, Jakenan, dan Pucakwangi.

“Terutama daerah Gabuss, Jaken, Jakenan, dan Pucakwangi, ini membutuhkan perhatian untuk kebutuhan air bersihnya. Jangan sampai penanganannya baru dilakukan setelah masyarakat benar-benar kesulitan mendapatkan air,” ujar Yeti.

Menurutnya, persoalan kekeringan seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah bantuan air yang dikirimkan. Pemerintah perlu memiliki peta wilayah rawan kekeringan sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Yeti menilai data mengenai desa yang mengalami kekurangan air setiap tahun penting untuk menentukan prioritas pembangunan infrastruktur air.

Dengan pemetaan tersebut, pemerintah dapat membedakan wilayah yang cukup ditangani melalui dropping air dengan daerah yang membutuhkan pembangunan sumber air permanen.

“Kalau sudah diketahui wilayah mana yang setiap tahun mengalami kekeringan, intervensinya harus lebih permanen. Jangan sampai setiap kemarau kita kembali mencari solusi yang sama,” katanya.

Ia juga menilai kebutuhan air masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian dari pelayanan dasar. Air bersih bukan hanya dibutuhkan untuk minum dan memasak, tetapi juga untuk sanitasi serta aktivitas rumah tangga lainnya.

Karena itu, Yeti mendorong pemerintah daerah tidak berhenti pada penanganan selama status kekeringan berlangsung.

Pembangunan sumur bor, embung, jaringan perpipaan maupun penguatan sumber air lainnya dapat dipertimbangkan sesuai karakter masing-masing wilayah.

“Yang penting masyarakat jangan dibiarkan menghadapi kekurangan air sendirian. Bantuan darurat harus berjalan, tetapi perencanaan jangka panjang juga harus dimulai dari sekarang,” pungkasnya.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.