Hardi Usulkan 1.000 Titik Sumur Bor untuk Perkuat Ketahanan Air Pati

oleh -44 Dilihat
oleh
banner 468x60

PATI, inaraa.id – Penanganan kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Pati dinilai perlu diarahkan pada pembangunan sumber air yang mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang. Distribusi air menggunakan truk tangki dinilai tetap penting untuk kondisi darurat, namun tidak seharusnya menjadi pola yang terus berulang setiap musim kemarau.

Wakil Ketua DPRD Pati Hardi mendorong pemerintah mulai memperkuat infrastruktur penyediaan air dengan membangun sumber air permanen di kawasan yang selama ini menjadi langganan kekeringan. Salah satu usulan yang disampaikan yakni pembangunan hingga 1.000 titik sumur bor secara bertahap.

Menurut Hardi, sumur bor dapat menjadi alternatif sumber air ketika sumur warga dan sumber air permukaan mengalami penurunan debit. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap dropping air saat musim kemarau.

“Kalau kita ingin menyelesaikan persoalan kekeringan secara serius, jangan setiap kemarau hanya mengandalkan dropping air. Kita harus memperbanyak sumber air permanen, salah satunya melalui pembangunan sumur bor,” katanya.

Hardi menegaskan target 1.000 titik tidak harus dikerjakan dalam satu waktu. Pembangunan dapat disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan dilakukan berdasarkan skala prioritas, terutama di desa yang hampir setiap tahun menghadapi persoalan air bersih.

“Tidak harus langsung semuanya. Bisa bertahap, tetapi harus ada target yang jelas. Wilayah yang paling membutuhkan harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Ia menilai pembangunan sumber air permanen akan memberikan manfaat lebih luas dibandingkan penanganan yang hanya bersifat sementara. Selain menjadi cadangan ketika musim kemarau, fasilitas tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat dalam kondisi normal.

Meski demikian, Hardi mengingatkan pembangunan sumur bor harus diawali dengan kajian yang memadai. Pemerintah perlu mengetahui potensi air bawah tanah, kedalaman sumber, debit yang tersedia, serta kualitas air sebelum menentukan titik pengeboran.

Menurutnya, kondisi geografis Kabupaten Pati yang beragam membuat setiap wilayah tidak bisa mendapatkan perlakuan yang sama. Khusus kawasan pesisir, potensi munculnya air payau juga harus menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam survei.

“Jangan sampai anggaran sudah dikeluarkan untuk pengeboran, tetapi sumber airnya tidak sesuai kebutuhan. Survei dan kajian harus dilakukan terlebih dahulu,” jelasnya.

Hardi berharap gagasan pembangunan 1.000 sumur bor tersebut dapat menjadi bagian dari pembahasan program bersama pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Dengan perencanaan yang bertahap dan berbasis pemetaan, ia optimistis ketahanan air di wilayah rawan kekeringan dapat diperkuat.

Ia menambahkan, distribusi air melalui tangki tetap harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga selama kondisi darurat. Namun, langkah tersebut harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur permanen agar persoalan yang sama tidak terus berulang.

“Dropping air tetap diperlukan untuk kondisi sekarang. Tetapi kita juga harus berpikir bagaimana tahun depan, dua tahun lagi, persoalan ini tidak terus berulang dengan cara yang sama,” tegasnya.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.