PATI – Di tengah ketatnya persaingan produk agribisnis, kualitas komoditas menjadi penentu utama dalam memenangkan kepercayaan pasar dan konsumen. Hal tersebut disoroti tajam oleh Komisi B DPRD Kabupaten Pati saat mengevaluasi perkembangan sektor perkebunan rakyat, khususnya komoditas premium seperti kelapa kopyor yang menjadi ikon khas Bumi Mina Tani.
Anggota Komisi B DPRD Pati, Sudi Rustanto, mengingatkan para petani dan dinas teknis agar tidak terjebak pada ambisi mengejar kuantitas atau jumlah produksi semata. Menurut legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini, membanjirnya stok kelapa kopyor di pasaran justru akan menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan standardisasi kualitas daging buah yang premium.
Sudi menilai, kelapa kopyor Pati memiliki nilai tawar tinggi karena karakteristik rasa dan teksturnya yang khas. Karakter unggul ini harus dijaga lewat SOP (Standard Operating Procedure) budidaya yang ketat. Oleh sebab itu, petani membutuhkan transfer ilmu pengetahuan secara berkala agar mampu menghasilkan buah yang konsisten sesuai ekspektasi pasar.
“Pendampingan teknis harus diperkuat. Petani perlu mendapatkan pengetahuan terbaru agar produktivitas meningkat dan kualitas buah yang dihasilkan semakin baik,” ujar Sudi menjelaskan pentingnya aspek hulu dalam pertanian.
Ia menambahkan, kestabilan harga kelapa kopyor di tingkat tengkulak maupun pasar modern sangat dipengaruhi oleh penilaian visual dan rasa dari komoditas itu sendiri. Ketika petani dibiarkan berjalan sendiri tanpa panduan teknis, risiko penurunan kualitas buah akan sangat tinggi, yang berujung pada merosotnya harga jual di pasaran.
Untuk itu, Komisi B meminta dinas terkait menyusun program pelatihan terpadu yang membekali petani kemampuan memilah dan mempertahankan mutu buah dari pohon hingga sampai ke tangan konsumen akhir.
“Jangan hanya fokus pada peningkatan jumlah produksi. Yang lebih penting adalah bagaimana kualitas tetap terjaga sehingga harga jual tetap tinggi dan petani memperoleh keuntungan yang maksimal,” tandasnya.











