Pemkab Pati Siapkan 48 Tangki Air per Hari, Sumber Air Jangka Panjang Mulai Diburu

oleh -40 Dilihat
oleh
banner 468x60

PATI, inaraa.id – Penanganan kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Pati mulai diperkuat. Pemerintah Kabupaten Pati menyiapkan penambahan distribusi air bersih hingga mencapai 48 tangki setiap hari, menyusul meningkatnya kebutuhan masyarakat di daerah terdampak.

Upaya tersebut disiapkan melalui skema Belanja Tidak Terduga (BTT). Saat ini, distribusi air bersih telah dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati dengan rata-rata 6 hingga 8 tangki per hari.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan, pemerintah daerah masih melakukan pembahasan terkait penggunaan anggaran BTT untuk memperluas distribusi air bersih.

“Dari BTT harapan kami ada anggaran yang bisa kita luncurkan, sehingga tanki ini bisa sampai 48 tanki tiap hari,” ujar Chandra saat ditemui awak media dalam wawancara doorstop di depan ruang kerjanya, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, peningkatan distribusi diperlukan agar kebutuhan air masyarakat di wilayah terdampak dapat segera dipenuhi. Pemkab Pati pun terus mengupayakan agar penggunaan anggaran tersebut bisa direalisasikan untuk penanganan kekeringan.

Tak hanya mengandalkan APBD, pemerintah daerah juga membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta. Salah satunya melalui dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Chandra menyebut komunikasi dengan Bank Jateng telah dilakukan. Pihak perbankan tersebut direncanakan turut membantu menyediakan sejumlah tangki air untuk disalurkan ke kecamatan yang mengalami kekeringan.

“Dari Bank Jateng juga nanti akan menganggarkan untuk beberapa tanki, kelihatannya agak banyak nanti untuk di kecamatan-kecamatan yang terdampak kekeringan,” katanya.

Di sisi lain, Pemkab Pati berupaya agar kekeringan tidak meluas menjadi persoalan yang mengganggu sektor pertanian. Pemerintah daerah telah melakukan negosiasi dengan pihak pengelola sumber daya air untuk memastikan pasokan air menuju lahan persawahan tetap tersedia.

Hasil pembahasan tersebut menyebutkan Waduk Kedung Ombo direncanakan dibuka pada 15 September mendatang. Air selanjutnya diharapkan dapat dialirkan menuju Sungai Silugonggo untuk membantu memenuhi kebutuhan air, termasuk bagi kawasan pertanian.

“Kita terus berupaya supaya dampak kekeringan itu tidak berimbas ke tanaman pangan, khususnya persawahan di Kabupaten Pati,” tegas Chandra.

Namun, pemerintah daerah menyadari bahwa persoalan kekeringan tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan armada tangki air. Karena itu, pencarian sumber air baru mulai disiapkan sebagai langkah jangka panjang.

Pemkab Pati kini berdiskusi dengan sejumlah pemerintah kecamatan untuk memetakan lokasi sumber air yang paling dekat dengan desa-desa terdampak. Langkah tersebut diharapkan dapat memangkas ketergantungan terhadap distribusi air menggunakan truk tangki dari lokasi yang jauh.

“Jadi tidak hanya kita tiap tahun harus mengirimkan truk tanki. Kami akan mencari sumber-sumber air di wilayah-wilayah terdekat dengan desa-desa yang terdampak kekeringan ini,” jelasnya.

Pemetaan potensi air bawah tanah juga menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan. Pemkab Pati berencana memanfaatkan teknologi geolistrik untuk mengetahui titik-titik yang memiliki potensi sumber air.

Apabila ditemukan lokasi yang layak, titik tersebut akan diupayakan masuk dalam perencanaan anggaran tahun 2027. Dengan demikian, penanganan kekeringan diharapkan tidak selalu bersifat darurat, tetapi dapat diarahkan pada penyediaan sumber air yang lebih permanen.

Meski demikian, pencarian sumber air bukan tanpa tantangan. Pemerintah daerah mendapatkan informasi bahwa hasil pengeboran di sejumlah wilayah berpotensi menghasilkan air payau.

Karena itu, kajian lokasi menjadi penting agar sumber air yang nantinya ditemukan benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat.

Chandra menegaskan, pemerintah daerah akan terus mencari alternatif sumber air untuk memastikan kebutuhan warga di wilayah terdampak dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

“Pasti ada kalau kita berusaha,” ujarnya.

Dalam penanganan kekeringan ini, Pemkab Pati melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, pemerintah kecamatan, pihak perbankan melalui dukungan CSR, hingga pengelola sumber daya air. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan kebutuhan air bersih sekaligus menjaga sektor pertanian dari dampak kekeringan.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.