PATI – Membangun ketahanan pangan yang kokoh di Kabupaten Pati membutuhkan draf strategi yang menyeluruh dan tidak bisa dilakukan secara parsial. Keberhasilan swasembada pangan daerah tidak hanya ditentukan oleh kelancaran distribusi pupuk bersubsidi dan bantuan bibit unggul semata, melainkan juga harus disokong oleh kesiapan sarana mesin pendukungnya.
DPRD Pati mencermati bahwa sering kali terjadi ketidaksinkronan program di lapangan, di mana bantuan benih berlimpah namun para petani kesulitan mengolah lahan secara cepat karena kekurangan armada traktor. Sinkronisasi ketiga elemen dasar pertanian ini (bibit, pupuk, dan mesin) menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh dinas terkait.
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Warsiti, meminta jajaran eksekutif untuk menyusun cetak biru (blueprint) pertanian terpadu yang memosisikan mekanisasi sebagai pengikat kesuksesan program ketahanan pangan strategis.
“Selain dukungan bibit dan program pertanian yang berkelanjutan, para petani juga sangat membutuhkan bantuan alat dan mesin pertanian untuk menunjang aktivitas mereka di lapangan. Dengan adanya alat pertanian yang memadai, proses pengolahan lahan hingga panen dapat dilakukan lebih efektif dan efisien,” tutur Warsiti memaparkan formulasinya.
Menurutnya, ketika bibit unggul yang ditanam diolah menggunakan mesin tanah yang presisi, maka kualitas bulir padi atau jagung yang dihasilkan saat panen akan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi di pasar regional.
Langkah integrasi program ini diyakini dewan akan memperkuat daya tawar sektor pertanian Pati di tingkat provinsi, sekaligus menjadikan daerah ini sebagai lumbung pangan yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan.










