Yassin Sebut 2.000 Kelompok Tani di Pati Perlu Diperkuat Sesuai Potensi Komoditas

oleh -58 Dilihat
oleh
banner 468x60

PATI, inaraa.id – Pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Pati dinilai tidak bisa dilakukan dengan pola yang seragam. Setiap wilayah memiliki karakteristik lahan dan komoditas berbeda, sehingga pembinaan kelompok tani perlu disesuaikan dengan potensi yang dimiliki masing-masing daerah.

Anggota Komisi B DPRD Pati dari Fraksi PPP, Yassin Shodiq, mengatakan keberadaan sekitar 2.000 kelompok tani di Kabupaten Pati merupakan modal besar untuk memperkuat sektor pertanian. Namun, kelompok tersebut perlu diarahkan agar mampu mengembangkan komoditas yang memang menjadi kekuatan di wilayah masing-masing.

“Jangan semua kelompok tani diberikan pola pembinaan yang sama. Petani harus dikembangkan berdasarkan potensi wilayahnya, karena setiap kecamatan memiliki karakter pertanian yang berbeda,” ujar Yassin.

Pria yang berasal dari Kecamatan Margoyoso itu mencontohkan, sejumlah wilayah memiliki komoditas yang sudah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat. Margoyoso sendiri dikenal memiliki banyak masyarakat yang mengembangkan tanaman ketela pohon.

Menurutnya, potensi lokal semacam itu seharusnya mendapat perhatian lebih dalam penyusunan program pertanian. Pemerintah daerah dapat mendorong peningkatan produktivitas sekaligus membuka peluang pengolahan hasil agar nilai jual komoditas tidak berhenti pada hasil panen mentah.

“Ketela pohon misalnya, jangan hanya dilihat sebagai hasil pertanian. Kalau pengembangannya serius, bisa diarahkan ke pengolahan dan produk turunan sehingga nilai ekonominya lebih besar dan manfaatnya kembali ke petani,” jelasnya.

Yassin menilai penguatan kelompok tani juga penting untuk memudahkan pemerintah memberikan pendampingan, bantuan sarana produksi, hingga pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing komoditas.

Ia berharap ke depan pemetaan potensi pertanian di Pati semakin diperkuat. Dengan begitu, kelompok tani tidak hanya menjadi wadah administratif, tetapi benar-benar menjadi motor pengembangan ekonomi petani di tingkat desa.

“Kalau kelompok tani kuat dan komoditasnya jelas, pemerintah juga lebih mudah menentukan intervensi yang dibutuhkan. Hasil akhirnya tentu peningkatan kesejahteraan petani,” pungkasnya.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.