PATI, inaraa.id — Persoalan perpindahan siswa dari SMP Negeri 8 Pati ke MTs di Juwana menjadi perhatian Komisi D DPRD Kabupaten Pati. Dewan menilai komunikasi antara sekolah, orang tua, dan sekolah tujuan perlu diperkuat agar persoalan administrasi tidak berkembang menjadi kesalahpahaman.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Pati, Endah Sri Wahyuningati, mengatakan proses perpindahan siswa semestinya dilakukan dengan komunikasi yang jelas sejak awal.
“Ketika ada anak yang pindah sekolah, orang tua harus mendapatkan informasi yang jelas mengenai tahapan administrasinya. Sekolah asal dan sekolah tujuan juga harus saling berkoordinasi,” kata Endah.
Menurutnya, persoalan Dapodik merupakan bagian dari administrasi pendidikan yang memang perlu ditangani secara tepat. Namun, kendala teknis tidak seharusnya membuat siswa maupun wali murid merasa tidak mendapatkan kepastian.
“Jangan sampai persoalan teknis di sistem kemudian dipahami sebagai sekolah mempersulit anak. Ini yang harus kita luruskan bersama,” ujarnya.
Endah menilai pertemuan langsung antara wali murid dan pihak sekolah menjadi langkah penting untuk mengurai persoalan.
“Setelah kedua pihak bertemu, persoalannya menjadi lebih terang. Dari situ kita bisa melihat mana yang menjadi persoalan komunikasi dan mana yang memang perlu diselesaikan secara administratif,” jelasnya.
Ia berharap sekolah di Pati dapat memberikan pelayanan yang responsif ketika menghadapi siswa yang hendak berpindah sekolah.
“Orang tua membutuhkan kepastian. Karena itu, setiap proses perpindahan siswa harus disampaikan secara terbuka agar tidak muncul asumsi yang berbeda-beda,” tambah Endah.
Sebelumnya, Komisi D melakukan sidak ke SMPN 8 Pati setelah menerima laporan mengenai siswa yang mengalami kendala dalam proses perpindahan.
Siswa tersebut sebelumnya bersekolah di SMPN 8 Pati dan kemudian melanjutkan pendidikan ke MTs Juwana. Saat ini siswa tetap bersekolah, sementara pemindahan data Dapodik masih dalam proses.
Endah menegaskan pihaknya akan mendorong penyelesaian administrasi tersebut agar tidak mengganggu aktivitas belajar siswa.
“Target akhirnya sederhana, anak tetap belajar dengan nyaman dan administrasinya juga beres,” pungkasnya.
(ADV)









