Bidan Jadi Ujung Tombak CKG, Ning Minta Puskesmas Perkuat Peran Tenaga Kesehatan Desa

oleh -18 Dilihat
oleh
banner 468x60

PATI, inaraa.id — Di tengah upaya memperluas akses layanan kesehatan, keberadaan tenaga kesehatan yang dekat dengan masyarakat menjadi salah satu faktor penting. Hal itu yang membuat Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Pati, Endah Wahyuningati atau Ning, meminta pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak berjalan sendiri di tingkat Puskesmas.

Ning menilai bidan memiliki posisi strategis karena sehari-hari bersentuhan langsung dengan masyarakat, khususnya di wilayah desa. Kedekatan tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan dalam memastikan program kesehatan pemerintah benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.

“Program CKG ini program nasional dari pemerintah. Puskesmas harus melibatkan semua unsur, terutama bidan, karena merekalah ujung tombak di lapangan,” kata Ning saat ditemui di Pati.

Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak semata ditentukan oleh tersedianya fasilitas maupun program. Pendampingan dari tenaga kesehatan di lapangan juga diperlukan agar masyarakat memahami pentingnya pemeriksaan dan tidak hanya datang ketika mengalami keluhan.

Bidan, kata Ning, dapat menjadi penghubung antara program kesehatan di Puskesmas dengan kebutuhan warga di desa. Terlebih dalam persoalan kesehatan ibu dan anak, komunikasi dan pendampingan secara berkelanjutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Ia berharap keterlibatan berbagai unsur tenaga kesehatan dapat membuat CKG memiliki dampak yang lebih luas. Program tersebut sekaligus bisa menjadi momentum untuk memperkuat layanan dasar yang selama ini telah berjalan di tingkat desa.

“Ini program baik di desa terkait program dasar mulai stunting, layanan ibu hamil dan lain-lain. Semua harus berjalan bersamaan agar hasilnya maksimal,” ujarnya.

Ning juga mengingatkan bahwa penguatan layanan kesehatan ibu tidak boleh hanya dilakukan ketika seorang perempuan telah hamil. Edukasi sejak dini perlu menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menekan risiko kesehatan ibu dan anak.

“Angka kematian ibu melahirkan cukup tinggi, sehingga program-program harus benar-benar dijalankan. Adanya angka kematian ini sangat prihatin,” ungkapnya.

Karena itu, ia melihat keberadaan bidan di desa bukan sekadar sebagai pemberi layanan medis, tetapi juga sebagai bagian dari mata rantai edukasi kesehatan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat antara Puskesmas, bidan dan unsur kesehatan lainnya, program pemerintah diharapkan lebih mudah diterima dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.