Pemkab Pati Perketat Pengawasan Alsintan, 32 Unit Bantuan Disalurkan ke Petani

oleh -19 Dilihat
oleh
banner 468x60

PATI, inaraa.id – Pengawasan terhadap bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) di Kabupaten Pati menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati. Langkah ini dilakukan untuk memastikan peralatan yang diberikan kepada kelompok tani terpelihara dengan baik dan benar-benar mendukung kegiatan produksi pertanian.

Komitmen tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, saat penyerahan 32 unit alsintan kepada kelompok tani di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pati, Kamis (22/10/2026).

Chandra menginstruksikan Dinas Pertanian Kabupaten Pati bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk mengevaluasi seluruh bantuan alsintan yang disalurkan pada 2025 dan 2026. Pemeriksaan dilakukan melalui pendataan inventaris, pengecekan kondisi peralatan, pencatatan lokasi, serta pengambilan dokumentasi foto dan video.

Ia menegaskan, setiap bantuan yang bersumber dari uang negara harus dipertanggungjawabkan. Apabila ditemukan peralatan rusak, pihak terkait diminta melakukan evaluasi dan menariknya sementara untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Chandra, pengawasan tersebut penting agar bantuan tidak terbengkalai maupun digunakan di luar tujuan yang telah ditentukan.

Ia juga meminta kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) penerima bantuan memiliki tanggung jawab dalam menjaga aset yang telah diberikan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Selain modernisasi pertanian melalui bantuan alat, Chandra mendorong pengembangan komoditas kelapa kopyor yang dinilai memiliki prospek ekonomi menjanjikan bagi Kabupaten Pati.

Ia mengapresiasi pengembangan kultur embrio kelapa kopyor oleh Dinas Pertanian setempat. Inovasi tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber pendapatan baru apabila dikembangkan secara konsisten dan didukung pemasaran yang baik.

Berdasarkan perhitungan yang disampaikan, harga satu bibit kelapa kopyor hasil kultur embrio mencapai sekitar Rp1,5 juta, dengan uang muka 50 persen dan waktu tunggu kurang lebih satu tahun.

Sementara itu, satu pohon diperkirakan menghasilkan 120 butir per tahun. Jika setiap butir dijual dengan harga Rp50 ribu, nilai penjualan kotor berpotensi mencapai Rp6 juta per pohon dalam setahun.

Potensi tersebut, lanjut Chandra, perlu dimanfaatkan untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam dunia pertanian. Ia ingin sektor pertanian semakin dipandang sebagai peluang usaha yang prospektif, bukan sekadar pekerjaan tradisional.

Di bidang pengembangan pertanian lainnya, Chandra menyebut Kabupaten Pati memperoleh undangan dari Menteri Pertanian terkait pengembangan bioetanol. Pati bersama Wonogiri disebut menjadi dua daerah di Jawa Tengah yang mendapat undangan tersebut.

Selain itu, terdapat arahan mengenai penyediaan bibit jagung untuk lahan seluas 1.000 hektare serta rencana pembukaan lahan pertanian hingga 20.000 hektare.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, menjelaskan bahwa 32 unit alsintan yang disalurkan pada tahun anggaran 2026 terdiri atas delapan traktor roda empat merek Maxxi, empat traktor roda dua merek Quick Zeva, tujuh mesin tanam padi atau rice transplanter, dan 13 unit pompa air.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu petani menekan biaya operasional sekaligus mempercepat proses pengolahan lahan dan kegiatan produksi.

Firman menekankan bahwa kelompok penerima harus menggunakan bantuan sesuai peruntukan. Ia juga mengingatkan agar alsintan tidak dialihkan ke wilayah lain yang tidak sesuai dengan ketentuan penyaluran.

Selain bantuan peralatan, Firman mengajukan 15 paket pembangunan dan peningkatan infrastruktur pertanian kepada Kementerian Pertanian pada tahun anggaran 2026.

Rinciannya meliputi tiga paket jalan usaha tani, empat paket irigasi perpompaan, satu paket irigasi perpipaan, lima paket rehabilitasi jaringan tersier (PITER), serta dua paket bangunan konservasi berupa embung dan dam parit. Seluruh usulan tersebut, berdasarkan informasi yang disampaikan, masih dalam proses pengusulan pencairan.

Firman turut mendorong agar laboratorium kultur embrio kelapa kopyor di Pati dikembangkan lebih lanjut sehingga berpeluang menjadi program berskala nasional. Ia menyatakan siap mengawal dukungan anggaran serta proses pengajuan paten melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, berharap penyaluran alsintan dapat mempercepat modernisasi sektor pertanian. Penggunaan peralatan tersebut diharapkan mampu mengurangi kebutuhan tenaga kerja, menghemat waktu pengerjaan, menekan biaya produksi, serta meningkatkan produktivitas dan hasil panen.

Di sisi lain, Chandra menilai perkembangan harga sejumlah komoditas pertanian turut memberikan peluang bagi peningkatan kesejahteraan petani. Ia menyebut harga pupuk relatif terjangkau, sedangkan harga gabah kering dan jagung dinilai cukup baik.

Ia juga menyoroti kenaikan harga singkong yang disebut meningkat dari di bawah Rp1.000 menjadi sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha tani agar keuntungan petani semakin optimal.

Tak hanya sektor pertanian, Pemkab Pati juga mengupayakan penguatan sarana pendukung perikanan. Chandra mengungkapkan koordinasi dengan Menteri Kelautan dan Perikanan mengenai rencana dukungan energi panel surya dan baterai bagi Kampung Nelayan Merah Putih.

Dukungan energi tersebut direncanakan untuk menunjang operasional cold storage dan pabrik es selama 24 jam. Dengan fasilitas yang lebih memadai, penyimpanan hasil tangkapan diharapkan semakin optimal dan dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian nelayan di Kabupaten Pati.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.